Bakat Bukan Takdir

Jenis Buku : National

Negara Penerbit : Indonesia

Penulis : Bukik Setiawan dan Andrie Firdaus

Tahun Terbit : 2016

Kategori: Family

Nuri Hasnani

Author Review

3.465

Read
Nuri
Nuri Hasnani

Guru Fisika

  

03 Apr 2016 | 2 Komentar

Bismillah..

Sebelum membaca buku ini, saya teringat dengan tulisannya Pak Indra Budi di goodaidea.com, bahwa kalau mau membaca buku mulailah dengan memahami daftar isinya (start with the table of content). Uniknya, buku ini ternyata tidak ada daftar isinya.. (:D) Selain itu, warna buku ini merupakan usulan dari pembaca setia tulisannya Pak Bukik Setiawan. Dan buku Bakat Bukan Takdir ini merupakan buku kedua hasil karya Pak Bukik Setiawan, setelah buku pertamanya yang berjudul “Anak Bukan Kertas Kosong” (saya belum baca buku ini... :(). Seperti yang ditulis oleh Pak Bukik Setiawan di TemanTakita.com, bahwa buku Bakat Bukan Takdir tidak banyak menjelaskan konsep baru, karena sebagian besar konsep di buku ini telah dijelaskan panjang lebar di buku yang pertama. (saya harus baca buku yang pertama...)

 

Konsep-konsep tersebut adalah meliputi tentang panduan lengkap bagi orang tua untuk mengembangkan bakat anak di zaman kreatif, latihan untuk membantu orang tua agar menjadi pendidik yang menumbuhkan, serta panduan dalam mengenali kecerdasan majemuk (multiple inteligent) anak. Dalam buku Bakat Bukan Takdir ini, Pak Bukik Setiawan dan Pak Andrie Firdaus memberikan penekanan yang lebih tegas mengenai pentingnya pengembangan bakat untuk menyiapkan anak berkarier cemerlang di zaman kreatif, yaitu zaman dimana banyak jenis pekerjaan yang tidak ada di zaman sebelumnya. Ada sebuah contoh yang diceritakan dalam buku ini, seorang anak bernama Eva, yang kebingungan menjelaskan pekerjaannya sebagai Social Media Specialist, kepada neneknya. Pekerjaan yang hanya ada pada zaman kreatif. Pekerjaan yang tidak pernah terbayangkan pada zaman sebelumnya. Tidak terbayangkan perusahaan akan membayar seseorang untuk membaca status di Facebook atau Twitter, atau menyimak obrolan digital. Pekerjaan yang memang bukan fokus untuk membuat produk berkualitas, tetapi membuat produk terhubung dan bermakna bagi penggunanya.

 

Di awal membaca buku ini, kta langsung ditanya, “Siapkah anak anda berkarier cemerlang?”.  Total ada sepuluh pertanyaan yang diajukan dan harus kita jawab untuk mengetahui sudah di fase manakah anak kita berada? Ada fase eksplorasi, fase belajar mendalam, dan kesiapan arah karier. Penting bagi orang tua untuk mengetahui hal ini karena dengan mengetahui di fase mana anaknya berada, maka orang tua dapat menentukan kecerdasan majemuk anaknya yang mana yang lebih menonjol. Setelah mengetahui fase-fase tersebut, maka buku ini pun membimbing orang tua agar dapat menstimulasi kecerdasan majemuk yang dimiliki oleh anak-anaknya. Kecerdasan majemuk merupakan berbagai macam kecerdasan yang dapat dimiliki seorang anak. Menurut Howard Gardner (1993) bahwa kecerdasan seseorang meliputi unsur-unsur kecerdasan matematika/logika, kecerdasan bahasa, kecerdasan musikal, kecerdasan visual spasial, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal, kecerdasan intra personal, dan kecerdasan naturalis. Kecerdasan dapat diibaratkan sebagai mesin pintar pengolah informasi. Ketika kecerdasan digunakan, anak akan menunjukkan ciri-ciri tertentu. Karena itu, kecerdasan dapat dikenali ketika anak berusaha menyelesaikan suatu persoalan yang terkait dengan kecerdasannya.

 

Tak hanya teori, tapi buku ini juga memfasilitasi orang tua agar berlatih dan terus berlatih dengan memberikan tabel yang harus diisi sesuai dengan materi yang dibahas. Seperti misalnya, latihan melakukan kebiasaan pendidik yang menumbuhkan. Pendidik yang menumbuhkan yaitu pendidik yang menganggap anak sebagai pelajar sepanjang hayat. Pendidik yang menumbuhkan yaitu pendidik yang tidak pernah mendikte atau memaksakan keinginan kepada anak. Pendidik yang menumbuhkan yaitu pendidik yang memberikan anak kesempatan berpikir untuk menemukan pilihan yang terbaik.  Yang paling menarik adalah lingkaran (siklus) kebiasaan pendidik yang menumbuhkan, yaitu:

  • Jeda-selaraskan : Pendidik (orang tua) harus belajar menghindari bersikap reaksioner terhadap perilaku anak. Ciptakan jeda sebelum bersikap. Selaraskan diri dengan memahami kebutuhan dan emosi anak.
  • Fokuskan : Pendidik fokus pada tujuan jangka panjang yang ingin dicapai: yaitu pelajar sepanjang hayat. Tanyakan, bagaimana bisa belajar dari kejadian ini untuk mencapai tujuan jangka panjang?
  • Stimulasikan : Alih-alih mendikte, pendidik yang menumbuhkan justru menstimulasi anak berpikir menemukan tindakan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan atau emosinya.
  • Refleksikan : Pendidik berefleksi apakah langkah-langkahnya telah menumbuhkan potensi anak; telah membantu anak untuk lebih mandiri dan bertanggung jawab. 

Kecerdasan aksara adalah potensi. Menulis buku adalah bakat. Menulis skenario film adalah bakat.

Kecerdasan sosial adalah potensi. Menjual barang adalah bakat. Meyakinkan orang adalah bakat.

 

Alhamdulillah...

Terimakasih tak terhingga untuk Goodaidea.com dan Pak Indra Budi atas hadiah buku yang luar biasa ini..

Karena buku ini tak cukup hanya dibaca...buku ini juga harus digunakan untuk berlatih dan berlatih... berlatih untuk mengetahui jenis kecerdasan anak, berlatih untuk menjadi orang tua dan pendidik yang menumbuhkan (yang memiliki kemampuan bercerita, bertanya, dan memberikan umpan balik), serta berlatih untuk menstimulasi bakat anak-anak sesuai kecerdasan yang dimilikinya, dengan harapan agar anak-anak kita tak lagi kebingungan menentukan arah karier mereka, karena bakatnya telah kita latih sejak dini.