Crucial Conversations (Part 1)

Ketika Percakapan Santai Berubah Menjadi Krusial

Jenis Buku : Import

Negara Penerbit : Amerika Serikat

Penulis : Kerry Patterson, dkk

Tahun Terbit : 2011

Kategori: Communication

Indra Budi

Author Review

979

Read
Indra
Indra Budi

HR Manager, Entrepreneur, Read 1 book a week

  

16 Oct 2016 | Komentar : 0

Ketika banyak hal dipertaruhkan, pendapat saling bersebrangan, dan emosi makin memanas, percakapan santai berubah menjadi krusial. Ironisnya semakin krusial sebuah percakapan, semakin kecil kendali kita untuk menangani arah percakapan tersebut.

 

Maka sebelum masalah semakin membesar dan tidak terkedali, kita bisa belajar mengendalikannya dengan menerapkan teknik percapakan krusial.

 

1. Memulai Dari Pikiran Sendiri - Miliki Mindset Yang Benar

Langkah pertama untuk menguasai percakapan yang baik adalah dengan fokus pada diri sendiri. Orang pertama yang bisa dipengaruhi, bisa didorong, dan dibentuk adalah orang yang paling sering kita lihat di cermin, yakni diri sendiri.

Kita harus mampu mengatasi masalah yang muncul akibat keyakinan bahwa orang lainlah yang menjadi sumber kesusahan kita. Pemahaman bahwa “jika kita bisa mengatasi para pecundang itu, semua akan beres”, merupakan cara pikir yang keliru yang menyebabkan konflik antar individu yang paling sering terjadi.

Masalah kita bukan karena perilaku yang buruk, motif kitalah yang buruk. Maka mulaiah dari motif yang lurus dan mindset yang benar pada diri sendiri.

 

2. Pusatkan Perhatian Pada Apa Yang Benar-benar Anda Inginkan.

Pada saat terjadi percakapan krusial, kita akan mudah teralihkan oleh emosi baik karena ingin menyerang atau karena ingin mempertahankan diri. Saat itulah penting untuk benar-benar tahu apa yang Anda inginkan dari percakapan tersebut ?, dan fokuslah pada hal tersebut.

Saat percapakan krusial terjadi, bisanya terjadi perdebatan. Orang yang pandai dalam berdialog akan sangat fleksible untuk mengikuti alur diskusi, mungkin pendapatnya tidak diterima oleh pihak lawan, tetapi Ia pandai menemukan cara penyelesaian lain tetapi tetap tujuannya bisa tercapai. Atau dengan kata lain, cara boleh berkompromi, tetapi tujuan harus tercapai.

 

3. Bangun Rasa Aman

Saat sebuah percakapan berubah menjadi krusial, masing-masing orang berada pada pihak yang berlawanan. Ini membuat mereka terjebak pada dua pilihan; siap menyerang atau siap mempertahankan diri. Kondisi seperti inilah dikatakan kondisi kurang aman.

Orang-orang yang berbakat dalam dialog selalu waspada dengan rasa aman, mengamati tanda-tanda ketika melihat orang lain mulai meninggikan suara, mengangkat jari seperti mengangkat pistol, atau bahkan terlihat seperti menarik diri dengan menutup mulut.

Jika aman, Anda bisa mengatakan apa saja. Dialog membutuhkan aliran makna yang bebas. Dan tidak ada yang bisa menghentikan aliran makna itu selain ketakutan. Rasa aman akan mendorong orang untuk bicara apa saja, tetapi ketika rasa aman terancam, orang akan menarik diri atau bahkan menyerang.

Rasa aman biasanya dipicu oleh; sikap memaksakan pendapat, sikap tidak menghormati lawan bicara, melakukan kritik, menyerang pendapat orang, dan lain sebagainya.

Bagaimana caranya membangun rasa aman saat terjadi percakapan krusial ?. Kuncinya adalah melangkah keluar dari percakapan untuk menciptakan rasa aman. Setelah rasa aman diperoleh lagi, kembalilah pada masalah yang dihadapi dan teruskan dialog.

 

4. Temukan Kesamaan Kepentingan & Tujuan Bersama.

Ketika Anda merasa bahwa Anda dan orang lain memiliki tujuan yang saling berlawanan, inilah yang dapat Anda lakukan. Pertama, melangkahlah keluar dari percakapan. Berhentilah memikirkan perhatian Anda pada alasan untuk membenarkan argumen-argumen Anda, tetapi pikirkan sebuah tujuan bersama.

Disini penting untuk menyepakati dulu apa tujuan bersama dari sebuah percakapan. Ini adalah syarat untuk membangun dialog yang aman bagi kedua belah pihak. Apabila Anda mampu menemukan tujuan bersama, orang lain beranggapan bahwa Anda peduli dengan tujuan atau kepentingan mereka.

 

Contohnya, Suami Anda baru saja ditawari pekerjaan diperusahaan baru dengan jabatan lebih tinggi dan penghasilan jauh lebih baik. Di perusahaan baru, suami Anda diberi wewenang yang lebih besar berikut kesempatan karir lebih baik. Akan tetapi lokasi kerja lebih jauh dari sebelumnya.

Suami Anda berharap Anda menganggap tawaran ini sebuah tantangan sekaligus peluang, tetapi tampaknya Anda sebagai istri sama sekali tidak melihatnya demikian. Bagi Anda informasi ini merupakan berita buruk, pertama karena jarak jauh membuat suami Anda harus berangkat lebih pagi dan pulang lebih malam, selain itu karena tanggung jawabnya lebih besar, akan sangat mungkin bekerja lebih lama. Masalah penghasilan dan kewenangan yang lebih besar tampaknya tidak menarik bagi Anda karena hilangnya waktu kebersamaan. Nah sekarang bagaimana ?.

 

Yang paling buruk saat berdialog adalah mengabaikan masalah dan terus maju dengan keputusannya masing-masing. Mereka memilih antara bersaing atau menyerah. Kedua kondisi ini pada akhirnya akan menciptakan kondisi menang atau kalah, dan biasanya yang kalah membenci yang menang.

Yang baik dalam berdialog adalah segera mencari kompromi dan mencari tujuan bersama. Untuk mencapai tujuan bersama, bergeserlah pada tujuan yang cakupannya lebih luas. Temukan sebuah sasaran yang lebih bermakna dan lebih bermanfaat bagi kedua belah pihak. Misalnya Anda dan suami Anda tidak sepakat apakah harus menerima tawaran pekerjaan baru itu atau tidak, tetapi Anda berdua bisa menyetujui bahwa kebutuhan dari hubungan dan anak-anak harus didahulukan daripada aspirasi karir.

Dengan berfokus pada tujuan yang lebih tinggi dan jangka panjang sering kali Anda bisa menemukan tujuan bersama yang mudah disepakati.