5 Guru Kecilku (bagian 1)

Kumpulan kisah berhikmah seputar pengasuhan anak

Jenis Buku : National

Negara Penerbit : Indonesia

Penulis : Kiki Barkiah

Tahun Terbit : 2015

Kategori: Parenting

Nuri Hasnani

Author Review

1.359

Read
Nuri
Nuri Hasnani

Guru Fisika

  

08 May 2016 | Komentar : 4

Saat menuliskan review buku ini, saya sedikit ragu..karena sudah banyak yang mereview buku ini..ragu, karena saya khawatir tidak sebagus review yang lainnya..ragu, karena ternyata yang saya rasakan dan saya tulis sama dengan yang dirasakan dan ditulis oleh orang lain. Tapi sungguh, buku ini sangat bagus untuk dibaca, tak cukup rasanya hanya membaca ringkasan atau reviewnya saja..karena buku ini bukanlah buku teori parenting, buku ini adalah buku bagaimana teori parenting dapat diaplikasikan dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Buku ini tidak hanya memberikan teladan dalam mengatasi berbagai konflik yang spesifik seputar pengasuhan anak, namun juga memberikan hikmah yang dapat menjadi ruh dalam menyelesaikan permasalahan kehidupan lainnya.  Buku ini adalah kumpulan cerita dan curahan hati seorang ibu yang sedang berjuang membesarkan dan mendidik ke lima orang anaknya dengan sebuah cita-cita yang tinggi, bahkan dapat dikatakan cita-cita tertinggi. Yaa, cita-cita tertinggi, yaitu meraih surganya Allah SWT.  Tak sekedar bercita-cita menjadikan anak-anaknya cerdas dan pandai, atau menjadikan anak-anaknya sukses di dunia..akan tetapi lebih dari itu..tidak hanya dunia tapi juga akhirat, dan tidak hanya akhirat tapi juga dunia.

Kalaulah ada yang bisa saya rangkumkan, yaitu mengenai beberapa langkah yang bisa dilakukan saat nasihat biasa tidak lagi ampuh untuk menghentikan misbehavior anak dan mengenai beberapa prinsip dalam membangun kemandirian, kematangan berpikir, serta kecakapan anak-anak dalam menyelesaikan masalah.

  • Beberapa langkah yang bisa dilakukan saat nasihat biasa tidak lagi ampuh untuk menghentikan misbehavior anak, yaitu:
  1. Pengalihan, yaitu membawa perhatian anak pada sesuatu yang lain, sehingga ia tidak fokus pada kasus sebelumnya. Misalnya, dengan memberikan kegiatan bermain yang lain saat kita akan melakukan sesuatu dimana ia tidak bisa terlibat di dalamnya
  2. Pengabaian, sepanjang misbehavior yang dilakukan tidak membahayakan, pengabaian merupakan cara memberi pengertian kepada anak bahwa ia tidak berhasil mendapatkan sesuatu dengan cara yang ia pilih.
  3. Konsekuensi logis, yaitu memberikan “hukuman” yang sesuai kesalahannya. Misalnya, ketika anak membuang-buang makanan, maka ambillah makanannya dan berikan lap/tissu dan mintalah ia untuk membantu membersihkan
  4. Timeout, yaitu memisahkan sang anak dari lingkungan di mana terjadinya peristiwa. Hal ini memberikan kesempatan bagi anak untuk menenangkan diri sehingga kita memiliki kesempatan untuk menyampaikan pesan yang perlu diterimanya. Juga memberi kesempatan kepada kita untuk bisa berpikir jernih.

 

  • Beberapa prinsip dalam membangun kemandirian, kematangan berpikir, serta kecakapan anak-anak dalam menyelesaikan masalah, yaitu:
  1. Memberikan kesempatan kepada anak untuk membantu walau hasilnya belum bagus
  2. Hanya membantu keperluan anak yang perlu dibantu
  3. Melakukan berbagai proyek bersama dengan pembagian peran. Semua terlibat dengan porsi beban sesuai kemampuan
  4. Stimulus anak untuk memberikan ide dalam penyelesaian masalah sebelum memberi arahan
  5. Apresiasi setiap bantuan yang anak-anak berikan walaupun sederhana
  6. Fokus pada bagaimana solusi masalah, sebelum membahas merefleksi hikmah. Apalagi membahas siapa yang salah
  7. Selama keadaan aman dan tidak membahayakan, beri kesempatan anak menyelesaikan permasalahannya dengan sesama sebelum turun membantu
  8. Ajari anak untuk meminta tolong dengan cara yang baik jika mereka merasa frustasi
  9. Tidak memberi pertolongan sampai anak memperbaiki cara meminta tolong dengan cara yang baik
  10. Selama keadaan masih aman, pilihlah untuk berkali-kali mengingatkan mereka akan tugasnya dibanding mengambil alih tugasnya namun mengerjakannya sambil marah-marah
  11. Menghargai penolakan anak saat mereka memilih untuk tidak bisa membantu kita
  12. Stimulus mereka untuk melihat hikmah positif dari setiap kejadian yang tidak mengenakkan
  13. Membangun diskusi dengan suasana kondusif dalam merefleksi kejadian terutama saat mereka memilih solusi yang kurang bijak dalam menghadapi masalah
  14. Do’akan anak-anak menjadi manusia yang arif dan bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan

Setiap anak begitu istimewa dan unik, bahkan mereka memiliki cara yang khas dalam belajar. Setiap anak memiliki waktu tertentu untuk mencapai kematangan menerima suatu pelajaran. Dan waktu yang tepat untuk mengajarkan pelajaran adalah saat mereka mengajukan pertanyaan kepada kita. Maka jeli lah dalam membaca peluang tersebut, lalu bijaksanalah. Dengan begitu, semoga secara bertahap kita dapat merajut, menyulam, dan menambal setiap kekurangan dalam membentuk kepribadian anak-anak.